5 Tahapan Strategy Journey



Usia bisnis yang sehat selama 10 tahun seringkali dianggap sebagai tonggak penting dalam keberlangsungan sebuah usaha. Capaian ini menunjukkan beberapa hal penting tentang keberadaan dan operasional perusahaan tersebut.

Tingkat kegagalan bisnis yang tinggi dalam beberapa tahun pertama adalah fenomena global yang umum. Beberapa contoh kasus dari berbagai negara dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi ini:

Amerika Serikat: Menurut data dari U.S. Small Business Administration (SBA), sekitar 50% dari semua bisnis baru di AS gagal dalam lima tahun pertama, dan hanya sekitar 33% yang bertahan hingga 10 tahun atau lebih. Faktor-faktor yang sering menyebabkan kegagalan mencakup manajemen keuangan yang buruk, persaingan pasar yang ketat, dan kurangnya permintaan untuk produk atau layanan.


Inggris: Riset dari Office for National Statistics (ONS) di Inggris menunjukkan pola yang serupa. Sekitar 45% dari bisnis baru di Inggris gagal dalam lima tahun pertama. Beberapa sektor, seperti perhotelan dan ritel, memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lain seperti teknologi informasi.
Australia: Data dari Australian Bureau of Statistics mengindikasikan bahwa sekitar 60% bisnis baru di Australia tidak berhasil melampaui tiga tahun pertama. Sektor dengan tingkat kegagalan tertinggi termasuk konstruksi dan layanan pribadi.
Kanada: Statistik dari Innovation, Science and Economic Development Canada menunjukkan bahwa sekitar 85% bisnis baru bertahan selama satu tahun, 70% bertahan selama dua tahun, dan hanya sekitar 51% yang bertahan lima tahun. Kanada memiliki berbagai program pendukung untuk start-up, tetapi tetap saja banyak yang mengalami kesulitan dalam jangka panjang.

Beberapa aspek yang menunjukkan pentingnya sebuah usaha bisa bertahan dan berkembang setidaknya selama satu dekade adalah :

  1. Kestabilan
    Usaha yang dapat bertahan selama 10 tahun atau lebih umumnya dianggap stabil. Ini menunjukkan bahwa bisnis tersebut mampu mengatasi berbagai tantangan, termasuk fluktuasi ekonomi, perubahan dalam permintaan pasar, dan persaingan.

  2. Kepercayaan pasar
    Keberlangsungan bisnis selama satu dekade membuktikan bahwa ada kepercayaan dari konsumen dan klien. Ini juga menandakan bahwa bisnis tersebut telah berhasil membangun merek dan reputasi yang kuat di mata pelanggan dan mitra bisnis.

  3. Kemampuan adaptasi
    Bisnis yang berusia 10 tahun biasanya telah melalui berbagai fase, dari startup hingga fase pertumbuhan yang lebih matang. Kemampuan untuk bertahan menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi yang baik terhadap perubahan teknologi, tren pasar, dan kebutuhan konsumen.

Meskipun usia 10 tahun adalah indikator positif dari kesehatan dan keberhasilan bisnis, penting juga untuk mengingat bahwa kesuksesan terus-menerus memerlukan inovasi dan penyesuaian terhadap keadaan baru. Kesehatan bisnis tidak hanya terukur dari lamanya beroperasi, tetapi juga dari bagaimana bisnis itu mengelola sumber dayanya dan merespons dinamika pasar yang berubah. Selain itu, suatu bisnis juga perlu mengetahui posisinya dalam tahap perkembangan bisnis. Oleh karena itu ada yang dikenal dengan istilah strategy journey untuk memastikan bahwa perusahaan tetap selaras dengan tujuannya sambil menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan bisnis, teknologi, dan kebutuhan pasar.


5 Tahapan Strategy Journey



Strategy Journey adalah sebuah framework yang dirancang untuk membantu organisasi mengembangkan, mengeksekusi, dan memelihara strategi bisnis mereka secara efektif. Framework ini memiliki beberapa fungsi kunci yang mendukung perusahaan dalam mencapai tujuan strategis mereka dan memastikan keberlanjutan jangka panjang.

1. Motivation & Leadership:
Tahap ini fokus pada pengembangan visi dan misi organisasi yang jelas, serta membangun kepemimpinan yang kuat untuk mengarahkan seluruh tim. Motivasi yang efektif dan kepemimpinan yang kuat adalah kunci untuk menggerakkan organisasi menuju tujuan-tujuannya. Tahap ini mencakup penetapan tujuan strategis, memobilisasi sumber daya, dan memastikan ada keselarasan antara visi perusahaan dengan tindakan yang akan diambil.

Contoh tokoh di Indonesia yang dikenal memiliki jiwa kepemimpinan yang memotivasi adalah Nadiem Makarim, p
endiri Gojek, startup yang berkembang menjadi decacorn pertama di Indonesia. Nadiem dikenal karena kepemimpinannya yang visioner dalam mengubah layanan ojek menjadi super app yang menyediakan berbagai layanan mulai dari transportasi, pengiriman makanan, hingga keuangan. Kepemimpinannya tidak hanya memotivasi karyawannya tetapi juga menginspirasi banyak pengusaha muda di Indonesia

2. Business Design:
Pada tahap ini, desain bisnis dibentuk untuk memastikan bahwa struktur organisasi mendukung strategi yang akan dijalankan. Ini melibatkan pemilihan model bisnis yang tepat, desain operasional, dan penentuan jalur produk atau layanan. Desain bisnis yang baik memungkinkan efisiensi, skalabilitas, dan keberlanjutan operasional.

Penerapan desain bisnis yang baik dapat dilihat pada strategi Tesla dan Elon Musk. D
imulai dengan mobil sport untuk membantu mendanai proyek masa depan seiring dengan bergeraknya bisnis menuju tujuan akhir atau visi dan misinya di sektor energi.

3. Value Design:
Tahap ini berkaitan dengan penciptaan nilai untuk semua pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, pemegang saham, dan karyawan. Hal ini melibatkan pengembangan proposisi nilai yang unik yang membedakan organisasi dari pesaingnya di pasar. Penciptaan nilai ini bisa melalui inovasi produk, pengalaman pelanggan yang unggul, atau model layanan yang efisien. 

Ekosistem Apple yang didukung oleh platform iOS-nya adalah contoh terbaik dari value design, karena produk dan layanan Apple meskipun harganya lebih tinggi atau premium, memiliki kemampuan untuk membuat pelanggan membenarkan pembelian mereka melalui semua manfaat nilai tambah lainnya, agar tetap bertahan dengan produk merek Apple tersebut. Desain nilai adalah tentang membangun kelekatan dalam pelayanan.

4. Business Architecture:
Business Architecture merupakan kerangka kerja di mana infrastruktur, proses, dan teknologi disusun agar sesuai dengan kebutuhan strategis perusahaan. Tahap ini melibatkan penyesuaian sistem IT, proses bisnis, dan struktur organisasi untuk mendukung eksekusi strategi yang efektif. Arsitektur bisnis yang baik memfasilitasi aliran informasi, meningkatkan kolaborasi, dan memaksimalkan efisiensi. 

Contoh dari penerapan business architecture yang baik adalah PLN (Perusahaan Listrik Negara) yang telah melakukan modernisasi arsitektur bisnisnya untuk mencakup lebih banyak sistem berbasis digital. Ini termasuk otomatisasi distribusi dan pengelolaan jaringan listrik serta peningkatan sistem billing dan layanan pelanggan. Transformasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan memperluas akses listrik di seluruh negeri.


5. Business Transformation:
Tahap terakhir ini adalah tentang implementasi perubahan yang diperlukan untuk mencapai tujuan strategis. Ini mungkin melibatkan perubahan besar dalam cara operasional perusahaan, adopsi teknologi baru, restrukturisasi organisasi, atau pivot dalam model bisnis. Transformasi bisnis adalah proses dinamis yang memerlukan manajemen perubahan yang efektif dan adaptasi berkelanjutan untuk mengatasi tantangan yang muncul. 

Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi negara telah melakukan transformasi besar-besaran dari penyedia layanan telekomunikasi tradisional menjadi perusahaan digital yang menyeluruh. Transformasi ini melibatkan pengembangan infrastruktur broadband, ekspansi ke layanan digital dan cloud, dan peluncuran produk-produk baru seperti Telkomsel MyAds dan Telkom DigiAds. Perubahan ini tidak hanya memperkuat posisi Telkom di pasar tetapi juga memperluas portofolionya ke layanan digital yang lebih luas.






Fungsi utama Strategy Journey

  1. Memberikan Struktur dan Arah

    : Strategy journey menyediakan kerangka kerja sistematis untuk perencanaan strategis dan eksekusi. Ini membantu organisasi mendefinisikan visi dan misi mereka dengan jelas, menetapkan tujuan yang spesifik, dan menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Framework ini memberikan arah yang jelas dan membantu memastikan bahwa semua inisiatif strategis selaras dengan tujuan akhir organisasi.
  2. Meningkatkan Pengambilan Keputusan: Dengan memahami dan menerapkan tahapan seperti Business Design dan Value Design, organisasi dapat membuat keputusan yang lebih informatif dan berdasarkan data. Framework ini memfasilitasi analisis mendalam tentang pasar, kompetitor, dan pelanggan internal serta eksternal, yang menghasilkan keputusan yang lebih strategis dan efektif.
  3. Mendukung Inovasi dan Penciptaan Nilai: Melalui proses seperti Value Design, organisasi dipandu untuk secara kreatif mencari cara-cara baru dalam menciptakan nilai bagi pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya. Ini mendorong inovasi dan diferensiasi di pasar yang sering kali bersifat kompetitif.
  4. Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas Operasional: Dengan mengembangkan Business Architecture yang kuat, strategy journey membantu organisasi menyusun infrastruktur dan proses yang mendukung strategi bisnis mereka. Ini mencakup teknologi, proses, dan sumber daya manusia yang semua harus diselaraskan untuk efisiensi maksimal dan pelayanan pelanggan yang optimal.
  5. Memfasilitasi Transformasi Bisnis: Tahap business transformation memungkinkan perusahaan untuk mengimplementasikan perubahan yang diperlukan untuk menyesuaikan dengan dinamika pasar yang berubah. Ini termasuk adaptasi terhadap teknologi baru, model bisnis yang berubah, dan kebutuhan konsumen yang berfluktuasi. Proses ini mendukung organisasi dalam mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang baru.
  6. Membangun Resiliensi: Dengan memperkuat fondasi strategis dan operasional perusahaan, strategy journey membantu membangun resiliensi terhadap gangguan eksternal dan internal. Hal ini membuat organisasi lebih tangguh dalam menghadapi krisis ekonomi, perubahan dalam regulasi, dan tekanan pasar lainnya.

Dalam praktiknya, Business Model Development sering menjadi bagian integral dari strategy journey. Pengembangan model bisnis membantu mendefinisikan atau memperbarui bagaimana organisasi akan berhasil dalam mencapai tujuannya, sementara strategy journey memberikan roadmap dan metodologi untuk membawa ide-ide tersebut ke dalam praktek operasional dan strategis.
Proses sinergis ini membantu perusahaan tidak hanya dalam merencanakan strategi tetapi juga dalam mengimplementasikan dan mengoptimalkannya secara efektif. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar, meningkatkan keunggulan kompetitif, dan memastikan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.



























Comments

Popular posts from this blog

Laporan Penjualan Skincare Gloskin di Banjarmasin

Kantin Universitas INABA Bandung : Tempat Berkumpul dan Nikmati Kuliner

Tantangan Kewirausahaan di Indonesia